Jumat, 22 November 2019

Kau di Sana dan Aku di Sini


Kau di Sana Aku di Sini
Sebuah prosais
Oleh : Husnafrizqa

Malam semakin larut, tapi kita berdua belum bisa terlelap. Kau di sana sendiri. Dan aku di sini bersama buah hati. Segala gundah gulana kehidupan ini, kita bicarakan bersama tuk cari solusi.

Puluhan kilometer kita terpisah. Semua demi sesuap nasi, dan masa depan sang buah hati. Dua belas tahun sudah, kita arungi bahtera ini, suamiku. Suka duka dan onak duri datang silih berganti.

Namun satu pintaku padamu, jika rasamu padaku sudah mulai pudar. Jangan sampai ikatan suci ini terlepas. Karena yang patah hati nantinya tidak hanya kau dan aku saja, tetapi juga ketiga buah hati kita.

Pare Kediri, 20 Oktober 2019

Terpisah Kilometer

Terpisah Kilometer
                                                                                                                      Oleh Husnafrizqa
Dua belas tahun sudah 
Kita arungi bahtera ini
Yang penuh onak-duri
Suka duka silih berganti

Kau di ujung sana
Aku di ujung sini
Puluhan kilometer terpisah

Namun yang pasti
Ikatan suci ini
Terap terpatri 
Dalam sanubari

Jika ada aral melanda
Jika rasa mulai hampa
Ingatlah tak hanya kita berdua
Ketiga cahaya mata kita
Pasti kan terluka juga

Pare Kediri, 20 Oktober 2019








panggil Aku Kirana

PANGGIL  AKU KIRANA
Oleh : Husnafrizqa

Kirana Larasati begitulah orang tuaku memberikan sebuah nama untukku. Seperti nama seorang artis yang terkenal saat ini. Kirana berasal dari bahasa Sangsekerta yang bermakna cahaya cantik yang bersinar terang, sedangkan Larasati jauh lebih dalam. Seperti Larasati tokoh pewayangan yang memiliki kharakter yang kuat. Kedua orang tuaku berharap dengan memberiku nama Kirana Larasati, dirIku menjadi wanita cantik dan terkenal dengan kharakter yang baik.
Namun ternyata harapan kedua orang tuaku itu tak sepenuhnya terkabul. Karena aku terlahir berbeda. Ya jauh berbeda dengan anak-anak lainnya. Aku anak gadis satu-satunya dalam keluargaku. Kedua kakakku laki-laki semua. Kakak pertamaku Mas Aris, sudah berkeluarga dan memiliki anak satu, Faris nama anaknya. Mas Aris sekarang bekerja di perusahaan advertising dengan gaji yang lumayan besar. Kakak keduaku namanya Mas Rahmad, sudah bekerja di perusahaan Kereta Api Indonesia, tetapi belum menikah. Mereka berdua terlahir sempurna seperti anak-anak normal lainnya. Pintar-pintar dan selalu bersekolah di sekolah-sekolah favorit di kotaku. Bahkan mereka berhasil lulus dari perguruan tinggi negeri yang ternama.
Sungguh sangat berbeda dengan diriku. Aku terlahir tidak sempurna seperti kedua kakakku. Aku terlahir prematur dengan bobot 1,2 kg. Dan dokter mendiaknosaku mengidap down sindrom. Perkembanganku baik sensorik maupun motorik selalu terlambat. Kata ibuku aku baru bisa berjalan ketika berusia 3 tahun, dan baru bisa bicara saat usiaku hampir 5 tahun. Dan itupun tidak lancar kemampuan berbicaraku, saampai sekarangpun, ketika aku sudah berusia 16 tahun. Aku masih belum bisa lancar berbicara. Belum lancar membaca dan berhitung.
                                                            *****
Menurut cerita dari ibuku, kedua kakakku dulu sewaktu mereka lahir bobotnya sudah 4kg. Ibuku sampai kesulitan melahirkannya, tapi beruntung bisa lahiran normal tanpa harus operasi sesar. Ayah dan ibuku berencana hanya memiliki dua orang anak saja, sehingga kehamilan ketiga, itu terjadi di luar rencana. Walaupun saat itu ibuku sudah menggunakan alat kontrasepsi IUD, tetapi jika Alloh berkehendak, maka akupun dititipkan-Nya di rahim ibuku. Ibuku tidak tahu kalau di dalam rahimnya ada aku. Memang dari gadis siklus menstruasi ibuku memang tidak setiap bulan, jadi tidak menyangka kalau ibuku hamil. Yang ibuku rasakan badannya mulai gemuk. Saat itu ibuku sudah berusia 36 tahun. Karena tidak ingin berat badannya terus naik, ibuku minum obat pelangsing sampai dua minggu lamanya. Ibuku sampai pingsan lalu di bawa ke bidan terdekat. Tanpa disangka ibuku ternyata sudah hamil 12 minggu. Ibuku menangis sejadi-jadinya, sampai membuat Bu Bidan kaget dan ikut terharu. 
Setelah ibuku siuman, Bu Bidan memeriksa keadaan ibuku, lalu menyuruh ibuku tes urin. Setelah melihat hasil tes pack, Bu Bidan berkata:
Bu Bidan : Selamat ya Bu Yanti, jenengan positif hamil.
Ibuku      : Apa Bu, saya ha ha hamil?
Bu Bidan : setelah      saya periksa tadi kemungkinan kehamilan ibu sudah menginjak 12 minggu.
(ibuku sangat terkejut, gelisah dan tiba-tiba menangis)
Bu Bidan : Ada apa Bu Yanti, ada apa? Tenang Bu, coba ceritakan ada apa? Agar Bu Yanti menjadi lega.
Ibuku       : Ma maafkan saya Bu Bidan. Maafkan hamba Ya Alloh hiks huuuu huuuu
Bu Bidan : Tenang Bu, tenang ada apa? Mengapa Ibu? Apa yang terjadi?..
Ibuku      : Saya telah berdosa Bu, berdosa sama calon anak saya. Saya tidak menyangka saya akan hamil Bu, saya kira hanya gemuk saja, karena takut kegemukan saya sudah meminum obat pelangsing, sudah dua minggu ini. 
Bu Bidan : Ya Alloh Bu Yanti, obat pelangsing itu berbahaya bagi janin Bu, bisa menyebabkan keguguran atau bayi lahir cacat.
Ibuku  : maka dari itu Bu, saya takut, saya dosa Bu.
Bu Bidan.: Sudahlah bu, memang sudah terjadi, Ibu tidak bersalah, karena memang tidak tahu kalau hamil. Kita pasrahkan kepada Alloh saja nggih Bu, saya akan berusaha semaksimal mungkin membantu, untuk mencegah kemungkinan lebih buruk.
Ibuku  : Nggih Bu, terima kasih banyak, selamatkan bayi saya Bu.
Bu Bidan memberi ibuku, berberapa vitamin dan obat penguat kandungan, dan menyarankan untuk segera USG dan periksa ke dokter spesialis kandungan. Agar mendapat penanganan yang optimal. 
                                  *****

Selama kehamilan ibuku beberapa kali drop, dan harus bed rest total. Sering mual-dan muntah berlebihan, hingga tekanan darah ibuku sempat turun drastis 70/30. Sampai-sampai ibuku mengalami vertigo, ketika melihat benda yang ada di depannya terasa berputar-putar, mual setelah itu muntah. Sehingga selama kehamilan ibuku sering periksa ke dokter dan bidan setiap 2 minggu sekali, secara bergantian.
Segala upaya sudah ayah dan ibuku lakukan, di bawah pengawasan Pak Dokter dan Bu Bidan, namun dengan terpaksa aku lahir di usia kandungan 28 minggu, dan beratku hanya 1,2kg. Dokter memvonis bahwa aku terlahir tidak sempurna, dan mengidap down sindrom, wajahku seperti ras monggoloid, bentuk kepalaku lonjong, dan lebih kecil dari ukuran bayi normal lainnya, dan bibirku agak dower. 
*****

Meskipun diriku terlahir tidak sempurna, namun ayah, ibuku, kedua kakakku dan saudara-saudara lainnya sangat menyayangiku. Pertumbuhan fisik, motorik, sensorik dan psikisku sangat terlambat daripada anak-anak normal lainnya. Aku sekolah di TK dan SD Islam di desaku, namun karena aku mengalami keterlambatan sehingga aku sering tidak naik kelas. Karena itu aku sering diejek dan dijadikan bahan olok-olokan teman-temanku. Tapi aku takpernah sedih, aku tetap tersenyum, karena melihat temnku tertawa aku ikut tertawa juga. Aku tidak faham kalau sebenarnya diriku direndahkan. Ketika usiaku sudah 13 tahun, tapi aku masih kelas 3 SD. Belum bisa membaca dan menulis dengan lancar bahkan untuk huruf abjad pun diriku gak hafal, berhitungpun diriku tidak mampu. Sehingga guru-guru dan kepala sekolah sudah tidak sanggup, dan mengembalikan aku ke orang tua.  Akhirnya ibuku memindahkan aku sekolah di SLB yang ada di kotaku. 
Sekolah di SLB bagaikan menemukan duniaku, teman-teman yang ramah, selalu ceria, walau terkadang aku takut karena ada anak yang tantrum. Bapak ibu gurunya pun sangat ramah, baik dan telaten. Mengajariku menghafal huruf dan angka, sedikit demi sedkit aku sudah bisa mengeja kata. Alhamdulillah aku senang sekolah di sini. Teman-temanku banyak yang sepertiku, ada juga yang buta, tuli, gak punya kaki, ada yang gak bisa berjalan. Aku sangat bersyukur walaupun Iqku rendah tapi anggota tubuhku masih normal.
*****

Walau aku terlahir tidak sempurna namun, ibuku selalu melatihku untuk mandiri. Aku sudah bisa mandi sendiri di usia 10th, aku juga di ajari menyapu lantai dan halaman rumah. Sedikit demi sedikit aku di usiaku yang kini telah menginjak 15 tahun aku sudah bisa memasak. Ibuku dengan telaten mengajariku, walau sering berantakan tapi Ibuku, tetap sabar takpernah marah. Kini aku sudah bisa mencuci baju juga. Setiap hari baju kotor satu keluarga kucuci sendiri. Aku senang sekali bisa membantu ibuku, membantu kakakku, membantu ayahku, keluargaku serta tetanggaku. 
Karena anak sepertiku terkenal dengan anak yang tulus membantu, walau dengan banyak keterbatasan. Ayahku juga mengajariku mengaji dan sholat dengan telaten. Walau belum lancar mengaji, tapi aku tetap berusaha pantang menyerah. Aku harus bisa mandiri, dan harus tetap belajar. Walaupun sulit tapi aku yakin suatu saat akan bisa. 
           Mohon dengan sangat kepada teman-teman semua, jangan hina dan olok-olok anak-anak seperti kami. Kami ingin diperlakukan sama. Karena kami hanya menjalani ketentuanNya saja. Sayangi kami dengan tulus, jamgan bedakan kami, karena kelemahan fisik dan mental kami.

Pare, 25 Oktober 2019