Jumat, 28 Juni 2019

Widuri yang Hampir Layu

WIDURI YANG HAMPIR LAYU
Oleh : Husnafrizqa
          Di lereng Gunung Kelud tepatnya di Desa Sukomoro, tinggallah seorang gadis yang lugu dan polos, yang bernama Widuri Latifah. Bapak ibunya memberi nama Widuri terinspirasi dari sebuah  lagu yang dinyanyikan oleh Bob Tutupoli dan dirilis ulang oleh Broery Marantika Pesulima. Meskipun anak gunung dia tidak mau tertinggal dalam hal pendidikan. Widuri berhasil lulus dari sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup ternama. Namun walaupun anak kuliahan tetapi dia tetap memegang teguh taat pada aturan Allah, karena selain kuliah dia juga aktif dalam kegiatan kerohanian Islam di kampusnya dulu. Hingga detik inipun, dia belum pernah merasakan pacaran karena dia sudah memahami bahwa pacaran itu dilarang dalam Islam, dan hukumnya haram.

Sebenarnya dia ingin juga segera menikah seperti teman-teman sepantarannya, tetapi apalah daya, jodohnya belum juga datang. Usianya beranjak dewasa, 30 tahun adalah usia yang rawan bagi seorang gadis desa sepertinya. Tetangganya banyak yang sudah menikah, bahkan sudah mempunyai 3 orang anak. Adik-adik kelasnya juga sudah banyak yang menikah. Mereka rata-rata jarang yang melanjutkan kuliah, setelah tamat SMA banyak yang langsung menikah, atau kerja sebentar lalu menikah. Sementara Widuri dia melanjutkan kuliah, dan alhamdulillah lancar, hingga dia bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Dan dia juga berhasil lulus tes CPNS, lulus murni tanpa menyogok. Untuk urusan pendidikan dan pekerjaan lancar, tetapi tidak dengan urusan jodoh masih belum ditemukan.

  Malam begitu larut, namun mata  Widuri tak juga dapat terpejam, walau dia sudah berwudhu dan membaca doa. Ah, ada apa dengan dirinya. Malam itu begitu hening, hingga suara jam dinding pun di ruang keluarga terdengar jelas di telinga Widuri. Ejekan tetangganya siang tadi sangat mengganggunya. Sampai setua ini tidak juga laku. Widuri kini telah berusia 30 tahun, namun belum juga menikah. Usia segini belum menikah kalau di kota bukan masalah besar, tapi kalau di desanya sudah menjadi momok besar, sindiran, ejekan, bahkan bahan olok-olokan. Dia ingin menepis perasaan galau itu, apakah nanti akan jadi perawan tua selamanya? Siapa juga yang mau dengannya, gadis lugu, yang tidak cantik, tidak tinggi, tidak putih, pokoknya secara fisik dirinya begitu sederhana. Teman-teman yang sepantaran dengannya sudah menikah semua, bahkan yang 5 atau 10 tahun lebih muda dari Widuri sudah menimang anaknya.

Masih terngiang-ngiang dalam ingatan Widuri, ejekan dari tetangganya siang itu. Mereka sedang ngobrol santai di rumah tetangganya, samping rumah sambil mengasuh anak-anak mereka. Ketika Widuri pulang dari mengajar. Terbesit rasa iri di dadanya, kapankah dia bisa mengasuh anaknya seperti mereka? Hanya Allahlah yang tahu siapa jodohnya nanti, tak ada satupun petanda, ada laki-laki yang mau mengkhitbahnya, setelah Widuri menghindar dari tawaran itu. Aah bagaimana mungkin Widuri menerima tawaran menikah dari seorang laki-laki beristri tiga itu. Dia tidak mau menjadi yang keempat, membayangkan saja dirinya sudah ketakutan. Apakah ini hukuman dari Allah karena dia telah menolak lamaran dari seorang Ustad. Aah tidak Allah telah menyiapkan jodoh untuknya, hanya saja belum saatnya.

“Assalammualaikum, Mbak Mila, Mbak Nia, Dek Dita,” seulas senyum Widuri terkembang ketika menyapa tetangganya.
“Waalaikumsalam” jawaban mereka nampak kompak.
“Lucu-lucunya bayimu mbak, ini yang nomer tiga ya Mbak Nia, namanya siapa?” Tanya Widuri sambil menggendong bayi mungil itu.
“Firdaus Mbak Widuri, eh Mbak Widuri kapan nikah? Biar segera punya anak seperti kami. Ngapain sih kuliah segala, membuat jejaka di kampung ini jadi segan melamarmu?” Pertanyaan itu menusuk Widuri .
“Eh iya Mbak jangan sampai jadi perawan tua Mbak, nanti kalau sudah tua mau ikut siapa? Timpal Mila.
“Mbak Widuri kan gak mau pacaran, mau dapat jodoh dari mana coba? Katanya haram, eeh Mbak zaman sekarang saja cari yang haram saja susah, apalagi yang halal.” Gerutunya seakan semakin dalam menusuk jantung Widuri.
“Iya makasih ya doakan saja Allah segera mempertemukanku dengan jodohku yang telah disiapkan-Nya untukku” Jawab Widuri sambil menahan air mata yang mau tumpah.

“Ya Allah kuatkanlah aku, sebenarnya aku ingin sekali dijodohkan, karena aku sadar aku tidak bisa mencari jodoh sendiri. Karena selain aku yakin bahwa pacaran itu haram, aku juga tergolong gadis pemalu, yang tidak berani mengutarakan maksud. Meminta kepada orang tuaku untuk mencarikan jodoh untukku pun, tidak berani kukatakan, apalagi sampai meminta tolong orang lain. Hanya doa-doa saja yang selalu kupanjatkan kepada Sang Pemilik Jiwa.” Luapan perasaan Widuri yang terucap dalam hatinya.

***
“Assalammualaikum” Sapa Widuri ketika masuk rumah.
“Waalaikumsalam". Ada apa Nduk pulang-pulang kok wajahmu kusut begitu?” tanya ibunya Widuri dengan sedikit keheranan.
“Aah tidak apa-apa Bu, kecapekan saja saya, tadi mengajar dari jam pertama sampai jam ke 8.”, Jawabnya sekedarnya agar ibunya ikut tidak terluka.
“Widuri ganti  baju dulu ya Bu." Widuri pamit menuju kamar.
“ Iya Nduk, habis itu langsung makan ya, Ibu masak sayur Tewel dan goreng pindang kesukannmu”.
“Inggih Buk”, Widuri berlalu menuju kamar.
Ingin rasanya Widuri meluapkan perasaannya dengan curhat pada ibunya, tetapi  mengingat penyakit darah tinggi yang telah lama mendera ibunya, diurungkannya  niat itu. Widuri tidak mau ibunya terlalu memikirkan semua itu hingga membuatnya juga ikut terluka.  Akibatnya bisa fatal tensi darah ibunya akan cepat naik dengan drastis. Jadi selama ini berusaha sekuat tenaga memendam perasaannya sendiri. Masih ingat peristiwa setahun yang lalu, tekanan darah ibunya menjadi naik drastis dari 120 menjadi 180, menyebabkan ibunya  menjadi lemas dan sakit, karena mendengar langsung omongan teman kerjanya.

“Eh Bu Nur, Mbak Widuri itu kok bajunya kedodoran ya, tak rapi sama sekali, kerudungnya juga besar, nggak pakai make up sama sekali, bahkan lipstikan aja juga nggak, kok seperti wong ndeso ae, padahal lulusan kuliahan. Biasanya gadis seperti itu akan sulit jodohnya lho Bu Nur, dan sulit mendapatkan pekerjaan yang bonafit, masih muda kok pakaiannya seperti emak-emak saja sih.” ejek Bu Wina.

Kata-kata Bu Wina itu sangat panas sehingga mampu membakar hati ibunya  dan menaikkan darahnya kala itu. Alhamdulillah Bu Nur   mampu bersabar menahan amarah dan hanya beristighfar dalam hatinya. Dan membalas hinaan itu dengan doa, bukankah doa seorang ibu di kala marah itu bisa dikabulkan oleh Allah.

“Semoga Widuri anakku, cepat dapat kerja, cepat diangkat jadi PNS murni lulus tes, tanpa menyuap  dan lancar jodohnya dengan pemuda sholih, Aamiin. Kita lihat saja nanti Bu, Allah akan berpihak pada kebenaran, anakku hanya taat pada aturan Allah”. sergah Bu Nur.
“Hoalah Bu Bu kok Pede eram, zaman sekarang mana bisa jadi PNS tanpa nyogok, seribu satu itu, hahahaha” Bu Wina tertawa meremehkan ibunya Widuri.
Sampai di rumah Bu Nur menceritakan kejadian itu kepada Widuri, lalu berkata.

“Widuri sudahlah tidak usah memakai gamis dan kerudung besar, kamu masih muda dan belum menikah, nanti jodohmu menjauh dan susah cari kerja.”
Rupanya kata-kata Bu Wina bisa mempengaruhi ibunya juga, sehingga Bu Nur menjadi  sedikit khawatir.
“Mengapa ibu berkata begitu? Sudahlah Bu, jangan dipikirkan, yang menentukan jodoh, nasib manusia, rezeki manusia itu Gusti Allah yang mengatur dan menentukan, bukan gamis dan kerudung lebar Bu. Ibu tenang saja ya, Widuri akan buktikan dengan rajin belajar, berdoa dengan sungguh-sungguh, semoga Allah memberikan anugerah terbaiknya pada Widuri ya Bu, mohon doanya saja. Doa Bapak dan Ibulah yang mampu mengetuk pintu langit, demi masa depanku nanti. Matur suwun ya Bu”. Jawaban Widuri sedikit menenangkan hati ibunya yang sedang mengkhawatirkan nasibnya nanti.
“Ya sudah Nak, semoga nanti nasib baik berpihak padamu, Semoga Gusti Allah memberikan jodoh terbaik dan rezeki yag halal dan barokah untukmu, aamiin” doa tulus Bu Nur  itu merupakan ungkapan rasa sayangnya pada Widuri.

***
Siang itu rasanya Widuri begitu kecapekan, hingga tertidur masih menggunakan mukena setelah selesai Sholat Dhuhur. Dalam tidurnya Widuri bermimpi, Mbak Azizah, mbak kosnya dulu memberinya sebuah durian yang cukup besar, tapi anehnya dia berpesan bahwa durian itu hanya untuk Widuri sendiri, tidak boleh dimakan bersama teman-teman seperti biasanya. Lalu Widuri membuka durian itu dengan pisau bendo yang diambilnya dari dapur. Wauw harum benar baunya, durian kuning yang terlihat sangat legit. Widuri mengambil satu bagian dan belum sempat memasukkan ke dalam mulutnya, tiba-tiba "Kring kring kring" hp jadulnya berdering nyaring.

Dan Widuri terbangun sambil menggerutu, eh siapa sih yang telfon, mengganggu orang mau makan durian saja, uuh. Widuri mendapat telfon dari nomer asing, tepatnya seorang laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai tetangga Bu Rifdah, mantan gurunya sewaktu SMA dulu, dengan sedikit memaksa laki-laki itu minta izin agar dibolehkan datang ke rumah Widuri. Akhirnya dengan terpaksa dan untuk menghormati gurunya Widuri memperbolehkan laki-laki itu datang.
Pada hari minggu yang telah dijanjikan Zulfan datang ke rumah Widuri.                                 

   Mereka berdua saling memperkenalkan diri dengan santai. Lalu pembicaraan mereka mengarah pada obat herbal. Ternyata Zulfan ini sales obat herbal, dan mengajak Widuri untuk berbisnis menjadi seorang distributor. Namun Widuri tidak tertarik, akan bisnisnya. Tetapi dia mau membeli obat herbal untuk sakit asma, kebetulan Widuri mengidap asma sejak kecil.

Dua minggu kemudian Zulfan datang lagi dengan membawa obat herbal untuk penyakit asma, cordysep namanya. Widuri pesannya satu botol tapi hanya dibawakan separo saja, yang separo lagi untuk Bapak Zulfan katanya. Dan anehnya Zulfan tidak mau dibayar, baru kali ini beli barang tapi penjualnya tidak mau dibayar.
Hari-hari berikutnya Zulfan sering bertanya kabar melalui sms kepada Widuri. Widuri merasa agak risih, seperti dipantau saja hidupnya. Hingga Widuri jarang menjawab ataupun mengangkat telpon dari Zulfan. Zulfan juga sering mengirim pulsa pada Widuri.

“Assalammualaikum" Pulsanya sudah masuk Dik?
“Waalaikumsalam", sudah Mas, makasih, tapi maaf Mas tolong jangan kirimi saya pulsa lagi, kenapa Mas kirimi saya pulsa ?”
“Tidak apa-apa Dik, sekalian pas Mas beli pulsa juga kok.”
“Waduh tidak usah ya Mas, Widuri bisa beli pulsa sendiri dan tolong jangan tanya kabar melulu, Widuri risih, Mas menganggu kehidupan Widuri, Widuri merasa dipantau terus.”
“Ya maaf ya Dik, kalau Adik merasa terganggu, besok Minggu saya mau ke rumah ya?”
“Untuk apa Mas?
“Ada hal penting yang mau saya bicarakan, sudah ya "Assalammualaikum”
“Waalaikumsalam”

Seminggu kemudian Zulfan datang lagi. Dalam pikiran Widuri, Mas Zulfan datang lagi untuk menagih uang obat herbal, eh ternyata tidak.  Dia menemui Bapak dan Ibu Widuri. Setelah bertemu tanpa uraian panjang lebar dan tanpa prakata, dia langsung mengatakan akan melamar Widuri. Sontak Widuri dan Bapak Ibunya kaget sampai melonggo. Tidak pernah sekalipun bicara melamar, bicara  cinta, bicara pernikahan. Pembicaraan selama ini hanya seputar obat herbal dan ilmu komputer itu saja. Akhirnya 2 minggu lagi, Zulfan beserta keluarga besar melamar pas puasa pertengahan. Bapaknya Widuri memutuskan ikut hasil Sholat Istikhoroh. Alhamdulillah hasilnya positif akhirnya mereka berdua menikah tiga minggu setelah lamaran, tepatnya 8 hari lebaran mereka menikah. Menikah hasil dari Sholat istikhoroh tanpa ada rasa cinta sebelumnya dan Widuri berniat menjadi istri sholihah, dan alhamdulillah sekarang sudah hampir 12 tahun pernikahan mereka, dan dianugerahi tiga anak.

Pacaran setelah menikah itu lebih asyik dan berpahala. Tetangga dan saudara kaget, tiba-tiba mereka menikah, kenal saja belum lama. Zulfan lulusan perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya jurusan teknik sipil, dan Zulfan bekerja di sebuah kontraktor BUMN. Alhamdulillah akhirnya kesabaran Widuri dalam menanti jodohnya berbuah manis. Menikah tanpa pacaran itu mengasyikkan ada sensasi aneh, saat pernikahan serba kikuk, grogi, malu dan canggung karena belum saling mengenal satu sama lain

Mencintaimu dalam Diam

Mencitaimu dalam Diam
Oleh Arik Ulfa

Kugoreskan tintaku
Sebagai luapan kalbu
Takmungkin tersampaikan padamu
Dalam diam aku mencintaimu
Teramat dalam menusuk relung hatiku

Namun cinta itu membuatku terluka
Luka yang semakin menganga
Perihnya menahan rindu takterkira
Sebuah dosa kan tercipta
Jika tetap menyatu dalam asa

Dia ada di antara kita
Dia adalah takdirku
Dia adalah takdirmu
Hanya bisa aku menahan rindu
rinduku dalam membeku
Takkuasa  melebur dan menghancur

Dalam diam mengagumimu
Sebatas cakrawala jingga
Ada rasa dalam diamku
Takdir seakan segan menyapa
Tak kan bisa bersama
Berbagi suka dan duka
Merajut asa dalam bahtera
Kau berlayar ke sana
Aku ke arah berbeda
Samudra kita pun takpernah sama

Izinkanlah aku mencintaimu
Mencintai dalam diamku
Menjadi pengagummu
Menari-nari dalam hayalku
Membawamu hanyut dalam mimpiku
Biarlah hanya Tuhan dan aku yang tahu
Dalamnya rasaku padamu

Kepada pemilik hati
Kumohon  maafkan
Dengan segala kelemahan
Takbisa menjaganya
Tetap bercahaya dan membara

Kusudahi rasa ini
Walau takterperi
Takingin menjadi duri
Yang siap menggerogoti
Bahteramu dan bahteraku kini
Sendiri mengubur diri

Biarlah hanya dalam angan


Hanya menjadi impian
Yang menjadi kenangan
Taktergerus zaman
Di akhir penyesalan
Maafkan aku yang lancang
Mencintaimu dalam diam
Takkan terucap sayang
Walau kan berbilang
Mencintaimu dalam diam
Dalam diam mencintaimu seorang

Menembus Batas Mimpi

Menembus Batas Mimpi
Oleh : Husnafrizqa
Sebut namaku Dini. Ya aku seorang ibu  dengan 4 anak yang masih banyak membutuhkan biaya sekolah dan kuliah. Satu orang anakku  duduk dibangku kuliah, jurusan ekonomi. Di perguruan  tinggi swasta tentu biaya kuliahnya sangat tinggi. Anak keduaku kelas 2 SMA, yang ketiga kelas 1 SMP,  dan si kecil Kelas 1 SD. Namun sangat disayangkan suamiku sudah lama tidak bekerja setelah 10th yang lalu kena PHK dari pabrik tempatnya bekerja. Sekarang aku lah yang menjadi  tulang punggung  keluargaku.
Tidaklah mudah menjadi  diriku kebutuhan hidup yang tinggi dengan gaji dan fasilitas yang tidak mencukupi. Harga kebutuhan hidup kini melambung tinggi. Aku hanya karyawan biasa  di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang kayu jati dan berbagai produk turunannya. Aku staf bagian administrasi. Gajiku dibilang sedikit sih tidak, tapi juga tidak bisa dibilang banyak. Nyatanya selalu pas buat kebutuhan dan tak bersisa. Ingin beli apa-apa seperti temanku lainnya, hanyalah  terwujud dalam hayalku saja. Ya akhir-akhir ini memang aku suka menghayal. Dan itu cukup menghiburku, sejenak melepaskan diri dari tekanan hidup.
Suamiku sekarang menganggur saja, kerjaannya antar jemput anak-anak sekolah dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Setelah di PHK dulu, dia sudah berusaha melamar pekerjaan ke mana-mana. Namun  selalu saja tidak cocok, dan bukan itu saja. Kami  takmampu membayar asisten rumah tangga jika dia kerja. Dia hanya tamatan  SMA kalau dia kerja pun gajinya takseberapa. Buat bayar asisten tidak cukup. Jadi dia sekarang jadi bapak rumah tangga.
***
Malam itu kami sedang menonton TV bersama, kebetulan hari itu Nisa anak pertamaku ada di rumah.  Jadi suasana rumah semakin ramai. Tio dan Fio sedang asyik mabar game mobil legend. Malam minggu ini seperti biasanya kami hanya di rumah saja berenam, menghabiskan malam bersama, mau keluar sekedar jalan-jalanpun, tidak bisa terwujud, karena kami harus berhemat untuk biaya kuliah si kakak.
"Maaf ya Bu, Nisa merepotkan Ibu lagi, Nisa me... , me.."kata Nisa sambi terbata-bata.
"Ada mbak, ngomong yang jelastanya Dini penasaran.
"Bu, Nisa seminggu lagi mau Praktik Kerja Lapangan ke Perusahaan, dan harus membayar biaya praktik lagi. Ini Bu perincian biayanya.Jawab Nisa sambil memberikan secarik kertas perincian biaya praktik.
"Apa banyak sekali, 8.000.000. Astaga mbak sebanyak ini uang dari manaDini nampak kaget.
"Maaf, maafkan Nisa ya Bu, laptop Nisa juga rusak Bu, harus diservis juga. Nisa sedikit ragu “Waduh, Ibu pusing Mbak, Bapak carikan uang dong Pak! Hutang Ibu sudah menumpuk. Dini nampak bingung harus menanggung biaya praktik anaknya yang menggunung.
Ya sabar saja Bu, kita berdoa saja ya, semoga nanti ada rezeki Udin menimpali dengan santainya.
"Bapak jangan santai, usaha kek, kerja kek, jangan diam saja. Semua kebutuhan Ibu semua yang nanggung. Sabar ya sabar tanpa usaha. Mana bisa uang datang sendiri. Dini sedikit emosi.
Ya nanti Bapak usahakan, kapan terakhir bayar Nis?”
“Tiga hari lagi Pak, bisa kan Pak?
Bisa, Nak. Bu Bapak mau menggandaikan rumah ini ya?
“ Apa, gadai, uang dari mana untuk mengambil sertifikatnya nanti Pak?
'Gaji Ibu sudah terpotong, utang yang dulu saja belum lunas. Bapak kerja dong Pak. Ibu capek, ini semua tanggung jawab Bapak
"Habis bagaimana lagi Bu, Bapak kerja gajinya juga kecil, lalu yang momong anak-anak, yang masak, Mengerjakan pekerjaan rumah siapa? Antar-jemput anak-anak sekolah siapa? Gaji bapak gak cukup buat bayar pembantu.
"Aah aku gak mau tahu Ibu masuk kamar sambil membanting pintu.
***
Punya anak empat dan masih sekolah semua bukan perkara  mudah. Tiap  bulan aku harus memutar otak, mencukup-cukupkan biaya hidup, agar semua kebutuhan terpenuhi. Pusing dan ruwet harus kuhadapi sendiri, mau diskusi dengan suami, dia pasti jawabnya menyuruh sabar dan memasrahkan padaku. Percuma aku marah atau menuntut padanya, solusinya pun pasti tidak ada. Aku iri, sungguh iri dengan teman-teman kerjaku yang suaminya kerja, punya pangkat dan kedudukan. Sedangkan suamiku? Dia adalah seorang rektor universitas ternama dan punya beberapa cabang bisnis di mana-mana. Tentu saja hal itu hanya dalam hayalku saja. Seakan-akan menjadi nyata dan tentu saja kuceritakan kepada siapa saja untuk menutupi keadaanku yang sebenarnya.
Aku iri dengan Bu Mirna yang suaminya seorang Perwira Angkatan Darat. Kehidupannya sungguh beruntung, bahkan sangat beruntung menurutku. Namanya juganya istrinya perwira, pergaulannya pun dengan sesama istri perwira lainnya. Dia punya asisten pribadi yang dari anggota TNI juga, para prajurit muda. Ada yang yang jadi supir pribadi, mengasuh anak-anak, sampai membantu urusan pekerjaan rumah. Betapa nikmatnya yang membuatku semakin iri. Setiap pergi ke kantor selalu diantar jemput ajudannya. Di kantorpun dia menjabat menjadi kepala bagian produksi.

         Aku iri juga dengan Bu Ratih yang suaminya seorang Manager Produksi di kantor tempatku bekerja. Bu Ratih sendiri juga seorang Manager Marketing di sini. Mereka berdua umurnya jauh di bawahku  tapi jabatannya melebihiku. Karena mereka berdua seorang manager, maka mereka mendapat fasilitas mobil dari kantor. Belum mobil pribadi mereka sendiri. Aah rasanya ingin kumiliki semua itu. Selain gaji besar, tunjangan dan fasilitas yang diberikan perusahaan pun cukup besar. Ingin kurebut jabatannya kelak suatu hari nanti. Entah bagaimanapun caranya. Entah dengan cara halus atau kasar. Aku harus bisa merebut kedudukannya di kantor ini. Harus dan harus.
Tidak hanya iri pada Bu Mirna dan Bu Ratih, aku juga sangat iri dengan Bu Hanifah, yang suaminya kerja di Dirjen Pajak. Sehingga jatah bulannya pun sangat besar. Dia bisa membeli apapun yang diinginkannya kapan saja. Dia juga menjadi pelanggan tetap salon terkenal untuk perawatan wajah dan tubuhnya. Perhiasan, asesoris, tas, sepatu dan baju-bajunya semua mahal dan branded. HRV merah selalu menemaninya kemanapun perginya. Dia sangat lincah mengendarai si merah. Aku sering membayangkan jika aku berada di posisinya, tentu sangat membanggakan, akan aku pamerka n di status Wa dan akun facebookku.
          ***
Untuk meningkatkan mutu perusahaan, salah satunya dengan meningkatkan Sumber Daya Manusia, alias para pegawainya. Maka Pak Direktur mewajibkan semua karyawannya mengikuti semacam pelatihan kerja sesuai divisi masing-masing. Aku pun ikut pelatihan bersama para staf divisi administrasi lainnya. Pelatihan ini diikuti oleh karyawan dari beberapa perusahaan. Dari sinilah aku mulai mengenal dunia luar, kenalan dengan beberapa orang-orang baru. Semua itu membangkitkan khayalku. Setiap kenalan dengan orang baru aku selalu mengaku sebagai kepala bagian administrasi dan memiliki banyak staf bawahan. Tentu saja mengaku bahwa suamiku adalah seorang rektor universitas tenama dan punya beberapa cabang bisnis di mana-mana. Tentu saja hal itu hanya dalam hayalku saja. Seakan-akan menjadi nyata dan tentu saja kuceritakan kepada siapa saja untuk menutupi keadaanku yang sebenarnya. Tapi anehnya mereka percaya saja atas bualanku dan belum ada yang klarifikasi ke teman satu perusahaanku, ya akhirnya kulanjutkkan saja.
Dengan mengikuti pelatihan itu, kenalanku dari beberapa perusahaan lain menjadi bertambah banyak. Maka kami berinisiatif membentuk grup whatsapp agar kami semakin akrab. Setiap hari aku selalu posting entah itu, mengajak sholat malam, puasa Senin Kamis. Biar terkesan agamislah, padahal kenyataannya sebalikny. Aku juga sering selfi dengan tas-tas bermerek, atau asesoris pinjaman, milih Rani teman akrabku. Demi kegemaranku foto sering sekali aku kerumahnya hanya sekedar numpang foto di mobil, rumah, bahkan di kamarnya. Rani hanya sebagai ibu rumah tangga, istri simpanan dari seorang pejabat. Foto-fotoku stiap hari selalu kuunggah di akun medsosku, tidak lupa ke beberapa whatsapp grup. Bila mereka memujiku, hatiku semakin bangga, dan kubalas dengan kebohongan berikutnya.
***
Namun, tidak selamanya kebohongan itu berjalan mulus. Ada seorang teman kerjaku yang tiba-tiba dimasukkan ke grup whatsapp itu, Milah namanya, dia juga seorang staf administrasi  . Aku cuek saja dia juga menjadi silent rider saja. Jadi aku semakin asyik dengan kebohongan demi kebohongan berikutnya. Hari itu aku unggah dua buah foto di ruang kerja Bu Ratih. Aku sengaja datang  pagi-pagi biar bisa leluasa berselfie ria. Kemarin aku juga berhasil berfoto di depan mobilnya, dengan menyuruh seorang office boy untuk memfotoku. Serta kuketik bahwa, aku sudah naik jabatan diangkat jadi manager marketing dan diberi fasilitas mobil. Semua orang memujiku dan mengucapkan selamat padaku, namun ada seorang yang meragukan, dengan menanyakan, Bagaimana seorang bagian administrasi bisa naik jabatan menjadi seorang manager marketing? Setelah itu muncullah kehebohan di grup. Semua orang jadi meragukanku, aku menjadi terpojok, tapi aku masih berusaha berkelit dengan mengatakan, bahwa karena aku berhasil memasarkan 20 set meja kursi kayu jati, nah karena prestasiku aku diangkat jadi manager marketing. Di grup whatsapp itu terpecah menjadi dua kubu, ada yang mendukungku dan ada yang tidak. Akhirya temanku angkat bicara, dia yang selama ini menjadi silent rider, akhirnya geram juga dan meluruskan keadaan. Dengan membeberkan fakta sebenarnya. Bahwa aku hanya seorang staf administrasi, suamiku tidak bekerja, beserta dia upload foto surat perjanjian kontrak kerjaku, ruangan kerja. Serta mengatakan bahwa manager marketingnya adalah Bu Ratih, ruang kerja dan mobil yang kuunggah  adalah   milik Bu Ratih. Grup menjadi heboh dan menyalahkan, menertawakan serta memojokkanku.
***
Akibat dari ulah isengku ini, perusahaanku jadi kena dampaknya, banyak yang membicarakanku dan perusahaanku. Bagaiamana PT Pramudya Jati Sejahtera, sebuah perusahaan kayu jati ternama bisa mempunyai karyawan  memalukan serta berhalusinasi tinggi, bahkan dicap setengah gila sepertiku. Masalah itu ternyata juga sampai ke Bu Ratih dan Pak Direktur. Pak Direktur memanggilku ke ruangannya. Panas dingin rasanya. Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju ruangannya. Di situ ada Bu Ratih, suami Bu Ratih, serta beberapa jajaran direksi lainnya. Aku diinterogasi, dimintai pertanggungjawaban dan disidang.
"Bu Dini, apa yang  anda lakukan? Kenapa membuat heboh di grup kolega administrasi?                                                                                                                                                                                                                                                                                       Memalukan perusahaan saja.Perusahaan kita jadi bahan gunjingan beberapa perusahaan lain” Gertak Pak Direktur.
Ma- ma- maaf, maafkan saya, Pak. Tak mampu menjelaskan, aku begitu ketakutan.
Akibat ulah Bu Dini, kredibilitas perusahaan kita jadi diragukan, banyak yang mau tandatangan kontrak kerja jadi  ditinjau ulang. Perbuatan ibu sangat merugikan perusahaan. Dan karena itu, anda saya pecat. Ini surat pemecatan dan pesangonnya. Terima kasih Pak Direktur dengan tegas memberikan surat pemecatan itu.
Apa dipecat? Janganlah Pak, tolong maafkan saya Pak, maafkan saya Pak Bu Dini memohon sambil memelas.
Maaf Bu tidak bisa, sudah keputusan para direksi
Makanya Bu Dini jangan suka menembus batas mimpi Bu Ratih ikut bicara.
Maafkan atas kelancangan saya Bu Ratih pinta Bu Dini sambil memelas.
Iya Bu sudah saya maafkan, tapi nasi sudah menjadi bubur, semoga Bu Dini bisa lebih baik lagi nantinya, jika mendapatkan pekerjaan baru, aamiin Bu Ratih nampah bijaksana
Rasanya aku tidak percaya, hanya karena ulah isengku, aku jadi dipecat. Bagaimana aku menghidupi anak-anakku? Bagaimana dengan sekolah dan kuliah anak-anakku?. Aku sadar akan kesalahanku, tidak akan kuulangi lagi, hidup dalam dunia mimpi. Aku akan mencari kerja di kota lain atau membuka usaha kecil-kecilan nantinya. Maafkan ibumu ini Nak..  
***                                         

Cintaku Mati Bersama Kepergianmu

Cintaku Mati Bersama Kepergianmu
Oleh Husnafrizqa

Hari ini tepat tujuh tahun yang lalu
Dirimu  pergi berlalu
Meninggalkanku juga anakmu
Takkau hiraukan sedu sedan anakmu
Berlalu pergi demi perempuan itu

Cintaku mati bersama kepergianmu
Rasa itu telah hilang
Lenyap dan mati
Ditelan oleh pengkhianatan

Pergilah pergilah pergilah
Menjauhlah dari kehidupanku
Hidup tanpamu adalah kebebasan
Cintaku telah mati
Biarlah terkubur dalam hati

Pare, 21 Juni 2019

Matinya Sebuah Keadilan


Matinya sebuah keadilan
Oleh husnafrizqa

Akhir-akhir ini kurasakan berbagai ketidakadilan
Menimpa orang yang berbeda pandangan
Rakyat mendukung adalah kawan
Rakyat tak mendukung adalah lawan

Banyak yang dikorbankan demi sebuah langgengnya kekuasaan
Cabai mahal suruh tanam sendiri
Bahan bakar mahal suruh jalan kaki
Listrik naik suruh berhemat sendiri
Tiket pesawat naik, datangkan pesawat luar negeri
Cari kerja sulit bagi anak negeri
Tapi mudah sekali buat luar negeri

Berbagai kecurangan sering terjadi
Sudah menjadi santapan sehari-hari
Apakah selamanya selalu dibodohi
Akankah kita selamanya berdiam diri
Atau hanya bisa berdoa pada Ilahi
Ya Robbi Izzati, kelauarkanlah kami
Dari berbagai kesulitan ini
Anugerahilah kami kehidupan yang lebih baik lagi

Pare, 21 Juni 2019

Kemarau di Musim Hujan

Kemarau di Musim Hujan
Oleh : Husnafrizqa

Lantang terdengar suara penuntut keadilan
Akan pengabdian yang tak dihiraukan
Puluhan tahun mengabdi tanpa kejelasan
Perbaikan nasib pun tak jua didapatkan

Akhir Oktober sebagai saksi
Puluhan ribu orang berorasi
Bertahan selama lima hari
Namun semuanya tak jua pasti
Tak ada perubahan nasib diri

Sampai kapankah menunggu
Tuk meraih gelar itu
Akankah selamanya menunggu
Dalam kepastian yang semu

Bukan tak ikhlas mengabdi
Tapi kami butuh ekonomi
Tuk masa depan anak kami
Semoga angin surga menghampiri

Pare, 21 Juni 2019

Aluna Serasa Janda

               Aluna Serasa Janda
              Oleh : Husnafrizqa

Malam semakin larut, benda penunjuk waktu yang terpampang di dinding itu menunjukkan pukul 11.30 malam. Aah ke mana aja Mas Aryo pergi, jam segini belum pulang juga? Aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri. Setelah berulang kali kupanggil, kirim pesan, maupun ngobrol lewat gawaiku, taksatupun dibalasnya. Memang bukan pertama kali dia pulang malam. Namun takpernah selarut ini. Di mana dirimu berada mas? Sedangkan Fito anak kita sedang dibalut rasa sakit. Iya penyakit tipesnya lagi kambuh. Dia sering menanyakanmu berulang kali.

Beberapa menit kemudian, dirimu datang dengan sempoyongan, kau gedor-gedor pintu, sambil berteriak lantang, sehingga suaramu memekakkan gendang telingaku. Tidak malukah dirimu pada tetangga kita.

"Woi Aluna cepat bukakan pintu" Brak brak brak. ""Woi kemana aja Budek, lama amat"
Dengan tergesa segera kubukakan pintu.
"Maaf Mas, aku lagi di belakang, anakmu minta minum, badannya panas, tipesnya kambuh lagi"
"Apa, kok bisa kambuh lagi? Hei bisa gak kau rawat anak?" Mas Aryo semakin marah, bau alkohol yang menyengat keluar dari mulutnya. "Bedebah, dasar istri gak becus, merawat anak satu aja gak becus" sumpah serapah dan hinaan untukku keluar dari mulutnya.

Mas Aryo mendorongku, hingga aku terpelanting terantuk tembok. Darah segar menetes dari dahiku. Kuusap dengan ujung daster kumalku. Kutekan-tekan untuk menghentikan pendarahan. Dan taklupa kububuhkan betadin.

Walau rasanya pusing dan nyeri, takhendak aku melawannya atau menjawabnya. Aku hanya bisa diam dan menangis dalam hati. Kalau kulawan, pasti tubuhku tambah hancur luka lebam di mana-mana akibat pukulan darinya seperti waktu itu. Mas Aryo masuk kamar Fito, dibelainya, diselimuti, dan secara takterduga Mas Aryo menangis. Dia minta maaf pada anakku serta menemuiku dan minta maaf padaku, sambil menangis. Hatiku luluh juga, akhirnya kumaafkan Mas Aryo. Aah hati perempuan memang selalu mudah luluh.

Mas Aryo menyeruput kopi dingin yang sudah kusiapkan dari tadi untuknya. Untung dia tidak mabok berat malam ini. Lalu dia menceritakan kejadian tadi siang di tempat kerjanya. Dengan penuh kecewa, dia bercerita bahwa dia telah di PHK secara sepihak oleh Bosnya, dan tanpa pesangon, hanya gaji bulan ini. Mas Aryo seorang sopir pribadi seorang direktur perusahaan, yang mulai gulung tikar. Bosnya tidak mampu memberi Mas Aryo pesangon. Sementara utang-utang Mas Aryo menumpuk, dia frustasi, kalau dipecat dari mana dia bisa melunasi hutang-hutangnya. Dia bekerja hanya untuk melunasi hutang-hutangnya saja. Aku dan Fito takpernah dinafkahinya.
***

Aku bekerja sebagai karyawan kecil dengan gaji dibawah UMR, yang gajinya hanya cukup untuk kebutuhan makanku dan anakku saja. Sementara kebutuhan lainnya masih ditransfer tiap bulan oleh ibuku. Maafkan anakmu Bu, sudah berumah tangga tetapi masih merepotkanmu. Punya suami serasa hidup jadi janda, takpernah diperlakukan sebagaimana istri pada umummya, apalagi dinafkahi, justru pukulan-pukulan sering dihantamkan padaku, ketika dia tak mampu mengendalikan emosinya. Dia pun jarang pulang sehingga nafkah batin yang merupakan hakku, sangat jarang dia tunaikan. Oh malangnya nasibku.

Namanya juga wanita dewasa, pastilah selain ingin nafkah lahir aku juga ingin mendapatkan nafkah batin, namun Mas Aryo jarang sekali pulang. Aku jadi sering pusing dan uring-uringan sendiri. Hingga anakkulah yang jadi korban. Dia sering kumarahin habis-habisan jika dia buat kesalahan walaupun kecil. Maafkan ibumu ini ya Fito.
***

Hanya di kantorku, tempat terindah melepaskan sejenak beban rumah tanggaku. Aku sering becanda dengan beberapa teman, bahkan dengan atasanku. Iseng-iseng kugoda atasanku itu. Rupanya gayung pun bersambut. Aku sering diajak Pak Tejo makan di restoran, jalan-jalan dengan mobilnya, dibelikannya gawai bermerek terkenal. Semua itu membuatku semakin berbunga-bunga. Kerja jadi semakin bersemangat, Kantorku masuk pukul 8.30 WIB, takjarang aku dan Pak Ranto berangkat satu jam lebih awal agar bisa sarapan berdua. Indahnya, serasa dunia milik kita berdua, benih-benih cinta di antara kami berdua semakin bertumbuh dengan lebatnya. Apa yang tak dapat diberikan oleh Mas Aryo, selalu diberikan oleh Pak Tejo.

Hubunganku dengannya semakin erat, walau sengaja kami sembunyikan dari teman kantor. Aku dan Pak Tejo tak ingin dipecat oleh Pak Direktur. Aku sering cari alasan agar bisa pulang telat, pulang larut malam. Alasan meeting dan lembur di kantor cukup kuat untuk, membungkam orang rumah. Bapak dan Ibuku sibuk jualan di pasar, mereka sering tinggal di ruko dari pada di rumah. Sehingga tinggal nenekku dan anakku saja. Membungkam mereka cukup mudah, setiap pulang selalu kubelikan buah tangan.

Tiga bulan pertama perselingkuhanku berjalan mulus, tanpa hambatan yang berarti, namun bulan-bulan selanjutnya anakku mulai protes. Karena aku sering pulang malam, sering pula melanggar janji padanya, tak pernah memperhatikannya lagi, dan semakin jauh dengan anakku. Fito mulai rewel dan menunjukkan gelagat aneh. Dia sering marah dan teriak-teriak. Bahkan sudah tidak mau sekolah lagi. Dia mengikutiku ke mana saja. Hingga terpaksa beberapa kali mengikutiku ke tempat kerja. Aku jadi lebih mengurusi Fit, sehingga Pak Tejo agak marah.
***

Waktu itu jam istirahat, teman-teman banyak yang makan di luar, sementara aku tetap di kantor. Pak Tejo datang menemuiku dengan membawakan kami makanan. Pak Tejo mulai mendekati Fito, tapi Fito menampakkan wajah ketidaksukaan. Pak Tejo memberikan gawainya, menyuruh Fito bermain game. Tak sengaja Fito membuka galeri, dan menemukan foto kebersamaanku dengan Pak Tejo. Fito seketika langsung berteriak-teriak, menangis dan mengamuk. Untuk menenangkannya terpaksa aku memukulnya, hingga pingsan. Lalu segera kami bawa pulang. Teman-teman yang baru saja selesai makan di luar, nampak kaget, bertanya ala kadarnya dan melanjutkan pekerjaannya. Dan ternyata Fito tadi mengirim foto kami berdua, pada ayahnya. Fito sangat sayang ayahnya, sehingga nomer gawainya pun dia hafal.

Setelah peristiwa itu kejiwaan Fito semakin terganggu, dia sering murung dan nangis sendiri, teriak-teriak tidak karuan. Semakin mengurung diri. Dia sangat membenciku, juga Pak Tejo. Diceritakannya rahasia perselingkuhanku pada bapak, ibu dan nenekku. Akibatnya semua menyalahkanku, hingga bapakku menamparku, dan mengusirku, tetapi ibu memohon-mohon, agar aku tak diusirnya.
***

Setelah Mas Aryo mendapat kiriman foto perselingkuhanku, dia tidak langsung marah. Dia menyusun stategi. Tampaknya Mas Anto sudah berubah, sejak dia menjadi supir pribadi seorang Ustadz. Mas Aryo datang ke kantor menemui Pak Direktur beserta istri  Pak Tejo. Mereka berdua mengadukan dan menuntut keadilan pada pihak kantor. Akhirnya Pak Direktur memecat kami berdua. Satu kantor jadi heboh, kami menjadi bahan gunjingan, di kantor, di keluarga besar, maupun di lingkungan tetangga.

Betapa malunya diriku, foto-foto kami berdua, disebarkan oleh istri Pak Tejo ke media sosial. Sehingga semakin malulah aku, semakin banyak yang menghina dan menghujat kami. Mas Aryo menceraikanku. Bapak Ibu mengusirku dari rumah. Istri Pak Tejo melaporkan kami ke polisi. Dengan delik aduan perselingkuhan dan merebut suami orang. Pada persidangan, aku dijatuhi 7 tahun penjara dengan tuntutan perselingkungan dan penelantaran anak. Sedangkan Pak Tejo 6 tahun penjara.

Aku sungguh menyesal, andai aku menyukuri anugerah Tuhan apa adanya. Andai aku tidak tertarik dengan gemerlap dunia, tak merebut suami orang. Buah hatiku tak akan menjadi depresi parah seperti sekarang, maafkan ibumu nak. Maafkan anakmu ini Bapak, Ibu, nenek, mertua dan mantan suamiku. Akibat ulahku kalian menanggung malu. Sebelum ajal menjemput izinkan aku tuk bertobat.

Sekali lagi pesanku, perselingkuhan tidak ada yang berbuah manis. Pasti membawa dampak buruk. Jangan korbankan anak, harga diri keluarga hanya demi gemerlap dunia dan nafsu sesaat. Berfikirlah sebelum berbuat. Semoga tidak ada Aluna Aluna berikutnya. Perselingkuhan itu enaknya sebentar, pahitnya selamanya. Siapa yang menanam dia akan menuai.
***