WIDURI YANG HAMPIR LAYU
Oleh : Husnafrizqa
Di lereng Gunung Kelud tepatnya di Desa Sukomoro, tinggallah seorang gadis yang lugu dan polos, yang bernama Widuri Latifah. Bapak ibunya memberi nama Widuri terinspirasi dari sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Bob Tutupoli dan dirilis ulang oleh Broery Marantika Pesulima. Meskipun anak gunung dia tidak mau tertinggal dalam hal pendidikan. Widuri berhasil lulus dari sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup ternama. Namun walaupun anak kuliahan tetapi dia tetap memegang teguh taat pada aturan Allah, karena selain kuliah dia juga aktif dalam kegiatan kerohanian Islam di kampusnya dulu. Hingga detik inipun, dia belum pernah merasakan pacaran karena dia sudah memahami bahwa pacaran itu dilarang dalam Islam, dan hukumnya haram.
Sebenarnya dia ingin juga segera menikah seperti teman-teman sepantarannya, tetapi apalah daya, jodohnya belum juga datang. Usianya beranjak dewasa, 30 tahun adalah usia yang rawan bagi seorang gadis desa sepertinya. Tetangganya banyak yang sudah menikah, bahkan sudah mempunyai 3 orang anak. Adik-adik kelasnya juga sudah banyak yang menikah. Mereka rata-rata jarang yang melanjutkan kuliah, setelah tamat SMA banyak yang langsung menikah, atau kerja sebentar lalu menikah. Sementara Widuri dia melanjutkan kuliah, dan alhamdulillah lancar, hingga dia bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Dan dia juga berhasil lulus tes CPNS, lulus murni tanpa menyogok. Untuk urusan pendidikan dan pekerjaan lancar, tetapi tidak dengan urusan jodoh masih belum ditemukan.
Malam begitu larut, namun mata Widuri tak juga dapat terpejam, walau dia sudah berwudhu dan membaca doa. Ah, ada apa dengan dirinya. Malam itu begitu hening, hingga suara jam dinding pun di ruang keluarga terdengar jelas di telinga Widuri. Ejekan tetangganya siang tadi sangat mengganggunya. Sampai setua ini tidak juga laku. Widuri kini telah berusia 30 tahun, namun belum juga menikah. Usia segini belum menikah kalau di kota bukan masalah besar, tapi kalau di desanya sudah menjadi momok besar, sindiran, ejekan, bahkan bahan olok-olokan. Dia ingin menepis perasaan galau itu, apakah nanti akan jadi perawan tua selamanya? Siapa juga yang mau dengannya, gadis lugu, yang tidak cantik, tidak tinggi, tidak putih, pokoknya secara fisik dirinya begitu sederhana. Teman-teman yang sepantaran dengannya sudah menikah semua, bahkan yang 5 atau 10 tahun lebih muda dari Widuri sudah menimang anaknya.
Masih terngiang-ngiang dalam ingatan Widuri, ejekan dari tetangganya siang itu. Mereka sedang ngobrol santai di rumah tetangganya, samping rumah sambil mengasuh anak-anak mereka. Ketika Widuri pulang dari mengajar. Terbesit rasa iri di dadanya, kapankah dia bisa mengasuh anaknya seperti mereka? Hanya Allahlah yang tahu siapa jodohnya nanti, tak ada satupun petanda, ada laki-laki yang mau mengkhitbahnya, setelah Widuri menghindar dari tawaran itu. Aah bagaimana mungkin Widuri menerima tawaran menikah dari seorang laki-laki beristri tiga itu. Dia tidak mau menjadi yang keempat, membayangkan saja dirinya sudah ketakutan. Apakah ini hukuman dari Allah karena dia telah menolak lamaran dari seorang Ustad. Aah tidak Allah telah menyiapkan jodoh untuknya, hanya saja belum saatnya.
“Assalammualaikum, Mbak Mila, Mbak Nia, Dek Dita,” seulas senyum Widuri terkembang ketika menyapa tetangganya.
“Waalaikumsalam” jawaban mereka nampak kompak.
“Lucu-lucunya bayimu mbak, ini yang nomer tiga ya Mbak Nia, namanya siapa?” Tanya Widuri sambil menggendong bayi mungil itu.
“Firdaus Mbak Widuri, eh Mbak Widuri kapan nikah? Biar segera punya anak seperti kami. Ngapain sih kuliah segala, membuat jejaka di kampung ini jadi segan melamarmu?” Pertanyaan itu menusuk Widuri .
“Eh iya Mbak jangan sampai jadi perawan tua Mbak, nanti kalau sudah tua mau ikut siapa? Timpal Mila.
“Mbak Widuri kan gak mau pacaran, mau dapat jodoh dari mana coba? Katanya haram, eeh Mbak zaman sekarang saja cari yang haram saja susah, apalagi yang halal.” Gerutunya seakan semakin dalam menusuk jantung Widuri.
“Iya makasih ya doakan saja Allah segera mempertemukanku dengan jodohku yang telah disiapkan-Nya untukku” Jawab Widuri sambil menahan air mata yang mau tumpah.
“Ya Allah kuatkanlah aku, sebenarnya aku ingin sekali dijodohkan, karena aku sadar aku tidak bisa mencari jodoh sendiri. Karena selain aku yakin bahwa pacaran itu haram, aku juga tergolong gadis pemalu, yang tidak berani mengutarakan maksud. Meminta kepada orang tuaku untuk mencarikan jodoh untukku pun, tidak berani kukatakan, apalagi sampai meminta tolong orang lain. Hanya doa-doa saja yang selalu kupanjatkan kepada Sang Pemilik Jiwa.” Luapan perasaan Widuri yang terucap dalam hatinya.
***
“Assalammualaikum” Sapa Widuri ketika masuk rumah.
“Waalaikumsalam". Ada apa Nduk pulang-pulang kok wajahmu kusut begitu?” tanya ibunya Widuri dengan sedikit keheranan.
“Aah tidak apa-apa Bu, kecapekan saja saya, tadi mengajar dari jam pertama sampai jam ke 8.”, Jawabnya sekedarnya agar ibunya ikut tidak terluka.
“Widuri ganti baju dulu ya Bu." Widuri pamit menuju kamar.
“ Iya Nduk, habis itu langsung makan ya, Ibu masak sayur Tewel dan goreng pindang kesukannmu”.
“Inggih Buk”, Widuri berlalu menuju kamar.
Ingin rasanya Widuri meluapkan perasaannya dengan curhat pada ibunya, tetapi mengingat penyakit darah tinggi yang telah lama mendera ibunya, diurungkannya niat itu. Widuri tidak mau ibunya terlalu memikirkan semua itu hingga membuatnya juga ikut terluka. Akibatnya bisa fatal tensi darah ibunya akan cepat naik dengan drastis. Jadi selama ini berusaha sekuat tenaga memendam perasaannya sendiri. Masih ingat peristiwa setahun yang lalu, tekanan darah ibunya menjadi naik drastis dari 120 menjadi 180, menyebabkan ibunya menjadi lemas dan sakit, karena mendengar langsung omongan teman kerjanya.
“Eh Bu Nur, Mbak Widuri itu kok bajunya kedodoran ya, tak rapi sama sekali, kerudungnya juga besar, nggak pakai make up sama sekali, bahkan lipstikan aja juga nggak, kok seperti wong ndeso ae, padahal lulusan kuliahan. Biasanya gadis seperti itu akan sulit jodohnya lho Bu Nur, dan sulit mendapatkan pekerjaan yang bonafit, masih muda kok pakaiannya seperti emak-emak saja sih.” ejek Bu Wina.
Kata-kata Bu Wina itu sangat panas sehingga mampu membakar hati ibunya dan menaikkan darahnya kala itu. Alhamdulillah Bu Nur mampu bersabar menahan amarah dan hanya beristighfar dalam hatinya. Dan membalas hinaan itu dengan doa, bukankah doa seorang ibu di kala marah itu bisa dikabulkan oleh Allah.
“Semoga Widuri anakku, cepat dapat kerja, cepat diangkat jadi PNS murni lulus tes, tanpa menyuap dan lancar jodohnya dengan pemuda sholih, Aamiin. Kita lihat saja nanti Bu, Allah akan berpihak pada kebenaran, anakku hanya taat pada aturan Allah”. sergah Bu Nur.
“Hoalah Bu Bu kok Pede eram, zaman sekarang mana bisa jadi PNS tanpa nyogok, seribu satu itu, hahahaha” Bu Wina tertawa meremehkan ibunya Widuri.
Sampai di rumah Bu Nur menceritakan kejadian itu kepada Widuri, lalu berkata.
“Widuri sudahlah tidak usah memakai gamis dan kerudung besar, kamu masih muda dan belum menikah, nanti jodohmu menjauh dan susah cari kerja.”
Rupanya kata-kata Bu Wina bisa mempengaruhi ibunya juga, sehingga Bu Nur menjadi sedikit khawatir.
“Mengapa ibu berkata begitu? Sudahlah Bu, jangan dipikirkan, yang menentukan jodoh, nasib manusia, rezeki manusia itu Gusti Allah yang mengatur dan menentukan, bukan gamis dan kerudung lebar Bu. Ibu tenang saja ya, Widuri akan buktikan dengan rajin belajar, berdoa dengan sungguh-sungguh, semoga Allah memberikan anugerah terbaiknya pada Widuri ya Bu, mohon doanya saja. Doa Bapak dan Ibulah yang mampu mengetuk pintu langit, demi masa depanku nanti. Matur suwun ya Bu”. Jawaban Widuri sedikit menenangkan hati ibunya yang sedang mengkhawatirkan nasibnya nanti.
“Ya sudah Nak, semoga nanti nasib baik berpihak padamu, Semoga Gusti Allah memberikan jodoh terbaik dan rezeki yag halal dan barokah untukmu, aamiin” doa tulus Bu Nur itu merupakan ungkapan rasa sayangnya pada Widuri.
***
Siang itu rasanya Widuri begitu kecapekan, hingga tertidur masih menggunakan mukena setelah selesai Sholat Dhuhur. Dalam tidurnya Widuri bermimpi, Mbak Azizah, mbak kosnya dulu memberinya sebuah durian yang cukup besar, tapi anehnya dia berpesan bahwa durian itu hanya untuk Widuri sendiri, tidak boleh dimakan bersama teman-teman seperti biasanya. Lalu Widuri membuka durian itu dengan pisau bendo yang diambilnya dari dapur. Wauw harum benar baunya, durian kuning yang terlihat sangat legit. Widuri mengambil satu bagian dan belum sempat memasukkan ke dalam mulutnya, tiba-tiba "Kring kring kring" hp jadulnya berdering nyaring.
Dan Widuri terbangun sambil menggerutu, eh siapa sih yang telfon, mengganggu orang mau makan durian saja, uuh. Widuri mendapat telfon dari nomer asing, tepatnya seorang laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai tetangga Bu Rifdah, mantan gurunya sewaktu SMA dulu, dengan sedikit memaksa laki-laki itu minta izin agar dibolehkan datang ke rumah Widuri. Akhirnya dengan terpaksa dan untuk menghormati gurunya Widuri memperbolehkan laki-laki itu datang.
Pada hari minggu yang telah dijanjikan Zulfan datang ke rumah Widuri.
Mereka berdua saling memperkenalkan diri dengan santai. Lalu pembicaraan mereka mengarah pada obat herbal. Ternyata Zulfan ini sales obat herbal, dan mengajak Widuri untuk berbisnis menjadi seorang distributor. Namun Widuri tidak tertarik, akan bisnisnya. Tetapi dia mau membeli obat herbal untuk sakit asma, kebetulan Widuri mengidap asma sejak kecil.
Dua minggu kemudian Zulfan datang lagi dengan membawa obat herbal untuk penyakit asma, cordysep namanya. Widuri pesannya satu botol tapi hanya dibawakan separo saja, yang separo lagi untuk Bapak Zulfan katanya. Dan anehnya Zulfan tidak mau dibayar, baru kali ini beli barang tapi penjualnya tidak mau dibayar.
Hari-hari berikutnya Zulfan sering bertanya kabar melalui sms kepada Widuri. Widuri merasa agak risih, seperti dipantau saja hidupnya. Hingga Widuri jarang menjawab ataupun mengangkat telpon dari Zulfan. Zulfan juga sering mengirim pulsa pada Widuri.
“Assalammualaikum" Pulsanya sudah masuk Dik?
“Waalaikumsalam", sudah Mas, makasih, tapi maaf Mas tolong jangan kirimi saya pulsa lagi, kenapa Mas kirimi saya pulsa ?”
“Tidak apa-apa Dik, sekalian pas Mas beli pulsa juga kok.”
“Waduh tidak usah ya Mas, Widuri bisa beli pulsa sendiri dan tolong jangan tanya kabar melulu, Widuri risih, Mas menganggu kehidupan Widuri, Widuri merasa dipantau terus.”
“Ya maaf ya Dik, kalau Adik merasa terganggu, besok Minggu saya mau ke rumah ya?”
“Untuk apa Mas?
“Ada hal penting yang mau saya bicarakan, sudah ya "Assalammualaikum”
“Waalaikumsalam”
Seminggu kemudian Zulfan datang lagi. Dalam pikiran Widuri, Mas Zulfan datang lagi untuk menagih uang obat herbal, eh ternyata tidak. Dia menemui Bapak dan Ibu Widuri. Setelah bertemu tanpa uraian panjang lebar dan tanpa prakata, dia langsung mengatakan akan melamar Widuri. Sontak Widuri dan Bapak Ibunya kaget sampai melonggo. Tidak pernah sekalipun bicara melamar, bicara cinta, bicara pernikahan. Pembicaraan selama ini hanya seputar obat herbal dan ilmu komputer itu saja. Akhirnya 2 minggu lagi, Zulfan beserta keluarga besar melamar pas puasa pertengahan. Bapaknya Widuri memutuskan ikut hasil Sholat Istikhoroh. Alhamdulillah hasilnya positif akhirnya mereka berdua menikah tiga minggu setelah lamaran, tepatnya 8 hari lebaran mereka menikah. Menikah hasil dari Sholat istikhoroh tanpa ada rasa cinta sebelumnya dan Widuri berniat menjadi istri sholihah, dan alhamdulillah sekarang sudah hampir 12 tahun pernikahan mereka, dan dianugerahi tiga anak.
Pacaran setelah menikah itu lebih asyik dan berpahala. Tetangga dan saudara kaget, tiba-tiba mereka menikah, kenal saja belum lama. Zulfan lulusan perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya jurusan teknik sipil, dan Zulfan bekerja di sebuah kontraktor BUMN. Alhamdulillah akhirnya kesabaran Widuri dalam menanti jodohnya berbuah manis. Menikah tanpa pacaran itu mengasyikkan ada sensasi aneh, saat pernikahan serba kikuk, grogi, malu dan canggung karena belum saling mengenal satu sama lain
