Jumat, 28 Juni 2019

Aluna Serasa Janda

               Aluna Serasa Janda
              Oleh : Husnafrizqa

Malam semakin larut, benda penunjuk waktu yang terpampang di dinding itu menunjukkan pukul 11.30 malam. Aah ke mana aja Mas Aryo pergi, jam segini belum pulang juga? Aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri. Setelah berulang kali kupanggil, kirim pesan, maupun ngobrol lewat gawaiku, taksatupun dibalasnya. Memang bukan pertama kali dia pulang malam. Namun takpernah selarut ini. Di mana dirimu berada mas? Sedangkan Fito anak kita sedang dibalut rasa sakit. Iya penyakit tipesnya lagi kambuh. Dia sering menanyakanmu berulang kali.

Beberapa menit kemudian, dirimu datang dengan sempoyongan, kau gedor-gedor pintu, sambil berteriak lantang, sehingga suaramu memekakkan gendang telingaku. Tidak malukah dirimu pada tetangga kita.

"Woi Aluna cepat bukakan pintu" Brak brak brak. ""Woi kemana aja Budek, lama amat"
Dengan tergesa segera kubukakan pintu.
"Maaf Mas, aku lagi di belakang, anakmu minta minum, badannya panas, tipesnya kambuh lagi"
"Apa, kok bisa kambuh lagi? Hei bisa gak kau rawat anak?" Mas Aryo semakin marah, bau alkohol yang menyengat keluar dari mulutnya. "Bedebah, dasar istri gak becus, merawat anak satu aja gak becus" sumpah serapah dan hinaan untukku keluar dari mulutnya.

Mas Aryo mendorongku, hingga aku terpelanting terantuk tembok. Darah segar menetes dari dahiku. Kuusap dengan ujung daster kumalku. Kutekan-tekan untuk menghentikan pendarahan. Dan taklupa kububuhkan betadin.

Walau rasanya pusing dan nyeri, takhendak aku melawannya atau menjawabnya. Aku hanya bisa diam dan menangis dalam hati. Kalau kulawan, pasti tubuhku tambah hancur luka lebam di mana-mana akibat pukulan darinya seperti waktu itu. Mas Aryo masuk kamar Fito, dibelainya, diselimuti, dan secara takterduga Mas Aryo menangis. Dia minta maaf pada anakku serta menemuiku dan minta maaf padaku, sambil menangis. Hatiku luluh juga, akhirnya kumaafkan Mas Aryo. Aah hati perempuan memang selalu mudah luluh.

Mas Aryo menyeruput kopi dingin yang sudah kusiapkan dari tadi untuknya. Untung dia tidak mabok berat malam ini. Lalu dia menceritakan kejadian tadi siang di tempat kerjanya. Dengan penuh kecewa, dia bercerita bahwa dia telah di PHK secara sepihak oleh Bosnya, dan tanpa pesangon, hanya gaji bulan ini. Mas Aryo seorang sopir pribadi seorang direktur perusahaan, yang mulai gulung tikar. Bosnya tidak mampu memberi Mas Aryo pesangon. Sementara utang-utang Mas Aryo menumpuk, dia frustasi, kalau dipecat dari mana dia bisa melunasi hutang-hutangnya. Dia bekerja hanya untuk melunasi hutang-hutangnya saja. Aku dan Fito takpernah dinafkahinya.
***

Aku bekerja sebagai karyawan kecil dengan gaji dibawah UMR, yang gajinya hanya cukup untuk kebutuhan makanku dan anakku saja. Sementara kebutuhan lainnya masih ditransfer tiap bulan oleh ibuku. Maafkan anakmu Bu, sudah berumah tangga tetapi masih merepotkanmu. Punya suami serasa hidup jadi janda, takpernah diperlakukan sebagaimana istri pada umummya, apalagi dinafkahi, justru pukulan-pukulan sering dihantamkan padaku, ketika dia tak mampu mengendalikan emosinya. Dia pun jarang pulang sehingga nafkah batin yang merupakan hakku, sangat jarang dia tunaikan. Oh malangnya nasibku.

Namanya juga wanita dewasa, pastilah selain ingin nafkah lahir aku juga ingin mendapatkan nafkah batin, namun Mas Aryo jarang sekali pulang. Aku jadi sering pusing dan uring-uringan sendiri. Hingga anakkulah yang jadi korban. Dia sering kumarahin habis-habisan jika dia buat kesalahan walaupun kecil. Maafkan ibumu ini ya Fito.
***

Hanya di kantorku, tempat terindah melepaskan sejenak beban rumah tanggaku. Aku sering becanda dengan beberapa teman, bahkan dengan atasanku. Iseng-iseng kugoda atasanku itu. Rupanya gayung pun bersambut. Aku sering diajak Pak Tejo makan di restoran, jalan-jalan dengan mobilnya, dibelikannya gawai bermerek terkenal. Semua itu membuatku semakin berbunga-bunga. Kerja jadi semakin bersemangat, Kantorku masuk pukul 8.30 WIB, takjarang aku dan Pak Ranto berangkat satu jam lebih awal agar bisa sarapan berdua. Indahnya, serasa dunia milik kita berdua, benih-benih cinta di antara kami berdua semakin bertumbuh dengan lebatnya. Apa yang tak dapat diberikan oleh Mas Aryo, selalu diberikan oleh Pak Tejo.

Hubunganku dengannya semakin erat, walau sengaja kami sembunyikan dari teman kantor. Aku dan Pak Tejo tak ingin dipecat oleh Pak Direktur. Aku sering cari alasan agar bisa pulang telat, pulang larut malam. Alasan meeting dan lembur di kantor cukup kuat untuk, membungkam orang rumah. Bapak dan Ibuku sibuk jualan di pasar, mereka sering tinggal di ruko dari pada di rumah. Sehingga tinggal nenekku dan anakku saja. Membungkam mereka cukup mudah, setiap pulang selalu kubelikan buah tangan.

Tiga bulan pertama perselingkuhanku berjalan mulus, tanpa hambatan yang berarti, namun bulan-bulan selanjutnya anakku mulai protes. Karena aku sering pulang malam, sering pula melanggar janji padanya, tak pernah memperhatikannya lagi, dan semakin jauh dengan anakku. Fito mulai rewel dan menunjukkan gelagat aneh. Dia sering marah dan teriak-teriak. Bahkan sudah tidak mau sekolah lagi. Dia mengikutiku ke mana saja. Hingga terpaksa beberapa kali mengikutiku ke tempat kerja. Aku jadi lebih mengurusi Fit, sehingga Pak Tejo agak marah.
***

Waktu itu jam istirahat, teman-teman banyak yang makan di luar, sementara aku tetap di kantor. Pak Tejo datang menemuiku dengan membawakan kami makanan. Pak Tejo mulai mendekati Fito, tapi Fito menampakkan wajah ketidaksukaan. Pak Tejo memberikan gawainya, menyuruh Fito bermain game. Tak sengaja Fito membuka galeri, dan menemukan foto kebersamaanku dengan Pak Tejo. Fito seketika langsung berteriak-teriak, menangis dan mengamuk. Untuk menenangkannya terpaksa aku memukulnya, hingga pingsan. Lalu segera kami bawa pulang. Teman-teman yang baru saja selesai makan di luar, nampak kaget, bertanya ala kadarnya dan melanjutkan pekerjaannya. Dan ternyata Fito tadi mengirim foto kami berdua, pada ayahnya. Fito sangat sayang ayahnya, sehingga nomer gawainya pun dia hafal.

Setelah peristiwa itu kejiwaan Fito semakin terganggu, dia sering murung dan nangis sendiri, teriak-teriak tidak karuan. Semakin mengurung diri. Dia sangat membenciku, juga Pak Tejo. Diceritakannya rahasia perselingkuhanku pada bapak, ibu dan nenekku. Akibatnya semua menyalahkanku, hingga bapakku menamparku, dan mengusirku, tetapi ibu memohon-mohon, agar aku tak diusirnya.
***

Setelah Mas Aryo mendapat kiriman foto perselingkuhanku, dia tidak langsung marah. Dia menyusun stategi. Tampaknya Mas Anto sudah berubah, sejak dia menjadi supir pribadi seorang Ustadz. Mas Aryo datang ke kantor menemui Pak Direktur beserta istri  Pak Tejo. Mereka berdua mengadukan dan menuntut keadilan pada pihak kantor. Akhirnya Pak Direktur memecat kami berdua. Satu kantor jadi heboh, kami menjadi bahan gunjingan, di kantor, di keluarga besar, maupun di lingkungan tetangga.

Betapa malunya diriku, foto-foto kami berdua, disebarkan oleh istri Pak Tejo ke media sosial. Sehingga semakin malulah aku, semakin banyak yang menghina dan menghujat kami. Mas Aryo menceraikanku. Bapak Ibu mengusirku dari rumah. Istri Pak Tejo melaporkan kami ke polisi. Dengan delik aduan perselingkuhan dan merebut suami orang. Pada persidangan, aku dijatuhi 7 tahun penjara dengan tuntutan perselingkungan dan penelantaran anak. Sedangkan Pak Tejo 6 tahun penjara.

Aku sungguh menyesal, andai aku menyukuri anugerah Tuhan apa adanya. Andai aku tidak tertarik dengan gemerlap dunia, tak merebut suami orang. Buah hatiku tak akan menjadi depresi parah seperti sekarang, maafkan ibumu nak. Maafkan anakmu ini Bapak, Ibu, nenek, mertua dan mantan suamiku. Akibat ulahku kalian menanggung malu. Sebelum ajal menjemput izinkan aku tuk bertobat.

Sekali lagi pesanku, perselingkuhan tidak ada yang berbuah manis. Pasti membawa dampak buruk. Jangan korbankan anak, harga diri keluarga hanya demi gemerlap dunia dan nafsu sesaat. Berfikirlah sebelum berbuat. Semoga tidak ada Aluna Aluna berikutnya. Perselingkuhan itu enaknya sebentar, pahitnya selamanya. Siapa yang menanam dia akan menuai.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar