Jumat, 28 Juni 2019

Menembus Batas Mimpi

Menembus Batas Mimpi
Oleh : Husnafrizqa
Sebut namaku Dini. Ya aku seorang ibu  dengan 4 anak yang masih banyak membutuhkan biaya sekolah dan kuliah. Satu orang anakku  duduk dibangku kuliah, jurusan ekonomi. Di perguruan  tinggi swasta tentu biaya kuliahnya sangat tinggi. Anak keduaku kelas 2 SMA, yang ketiga kelas 1 SMP,  dan si kecil Kelas 1 SD. Namun sangat disayangkan suamiku sudah lama tidak bekerja setelah 10th yang lalu kena PHK dari pabrik tempatnya bekerja. Sekarang aku lah yang menjadi  tulang punggung  keluargaku.
Tidaklah mudah menjadi  diriku kebutuhan hidup yang tinggi dengan gaji dan fasilitas yang tidak mencukupi. Harga kebutuhan hidup kini melambung tinggi. Aku hanya karyawan biasa  di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang kayu jati dan berbagai produk turunannya. Aku staf bagian administrasi. Gajiku dibilang sedikit sih tidak, tapi juga tidak bisa dibilang banyak. Nyatanya selalu pas buat kebutuhan dan tak bersisa. Ingin beli apa-apa seperti temanku lainnya, hanyalah  terwujud dalam hayalku saja. Ya akhir-akhir ini memang aku suka menghayal. Dan itu cukup menghiburku, sejenak melepaskan diri dari tekanan hidup.
Suamiku sekarang menganggur saja, kerjaannya antar jemput anak-anak sekolah dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Setelah di PHK dulu, dia sudah berusaha melamar pekerjaan ke mana-mana. Namun  selalu saja tidak cocok, dan bukan itu saja. Kami  takmampu membayar asisten rumah tangga jika dia kerja. Dia hanya tamatan  SMA kalau dia kerja pun gajinya takseberapa. Buat bayar asisten tidak cukup. Jadi dia sekarang jadi bapak rumah tangga.
***
Malam itu kami sedang menonton TV bersama, kebetulan hari itu Nisa anak pertamaku ada di rumah.  Jadi suasana rumah semakin ramai. Tio dan Fio sedang asyik mabar game mobil legend. Malam minggu ini seperti biasanya kami hanya di rumah saja berenam, menghabiskan malam bersama, mau keluar sekedar jalan-jalanpun, tidak bisa terwujud, karena kami harus berhemat untuk biaya kuliah si kakak.
"Maaf ya Bu, Nisa merepotkan Ibu lagi, Nisa me... , me.."kata Nisa sambi terbata-bata.
"Ada mbak, ngomong yang jelastanya Dini penasaran.
"Bu, Nisa seminggu lagi mau Praktik Kerja Lapangan ke Perusahaan, dan harus membayar biaya praktik lagi. Ini Bu perincian biayanya.Jawab Nisa sambil memberikan secarik kertas perincian biaya praktik.
"Apa banyak sekali, 8.000.000. Astaga mbak sebanyak ini uang dari manaDini nampak kaget.
"Maaf, maafkan Nisa ya Bu, laptop Nisa juga rusak Bu, harus diservis juga. Nisa sedikit ragu “Waduh, Ibu pusing Mbak, Bapak carikan uang dong Pak! Hutang Ibu sudah menumpuk. Dini nampak bingung harus menanggung biaya praktik anaknya yang menggunung.
Ya sabar saja Bu, kita berdoa saja ya, semoga nanti ada rezeki Udin menimpali dengan santainya.
"Bapak jangan santai, usaha kek, kerja kek, jangan diam saja. Semua kebutuhan Ibu semua yang nanggung. Sabar ya sabar tanpa usaha. Mana bisa uang datang sendiri. Dini sedikit emosi.
Ya nanti Bapak usahakan, kapan terakhir bayar Nis?”
“Tiga hari lagi Pak, bisa kan Pak?
Bisa, Nak. Bu Bapak mau menggandaikan rumah ini ya?
“ Apa, gadai, uang dari mana untuk mengambil sertifikatnya nanti Pak?
'Gaji Ibu sudah terpotong, utang yang dulu saja belum lunas. Bapak kerja dong Pak. Ibu capek, ini semua tanggung jawab Bapak
"Habis bagaimana lagi Bu, Bapak kerja gajinya juga kecil, lalu yang momong anak-anak, yang masak, Mengerjakan pekerjaan rumah siapa? Antar-jemput anak-anak sekolah siapa? Gaji bapak gak cukup buat bayar pembantu.
"Aah aku gak mau tahu Ibu masuk kamar sambil membanting pintu.
***
Punya anak empat dan masih sekolah semua bukan perkara  mudah. Tiap  bulan aku harus memutar otak, mencukup-cukupkan biaya hidup, agar semua kebutuhan terpenuhi. Pusing dan ruwet harus kuhadapi sendiri, mau diskusi dengan suami, dia pasti jawabnya menyuruh sabar dan memasrahkan padaku. Percuma aku marah atau menuntut padanya, solusinya pun pasti tidak ada. Aku iri, sungguh iri dengan teman-teman kerjaku yang suaminya kerja, punya pangkat dan kedudukan. Sedangkan suamiku? Dia adalah seorang rektor universitas ternama dan punya beberapa cabang bisnis di mana-mana. Tentu saja hal itu hanya dalam hayalku saja. Seakan-akan menjadi nyata dan tentu saja kuceritakan kepada siapa saja untuk menutupi keadaanku yang sebenarnya.
Aku iri dengan Bu Mirna yang suaminya seorang Perwira Angkatan Darat. Kehidupannya sungguh beruntung, bahkan sangat beruntung menurutku. Namanya juganya istrinya perwira, pergaulannya pun dengan sesama istri perwira lainnya. Dia punya asisten pribadi yang dari anggota TNI juga, para prajurit muda. Ada yang yang jadi supir pribadi, mengasuh anak-anak, sampai membantu urusan pekerjaan rumah. Betapa nikmatnya yang membuatku semakin iri. Setiap pergi ke kantor selalu diantar jemput ajudannya. Di kantorpun dia menjabat menjadi kepala bagian produksi.

         Aku iri juga dengan Bu Ratih yang suaminya seorang Manager Produksi di kantor tempatku bekerja. Bu Ratih sendiri juga seorang Manager Marketing di sini. Mereka berdua umurnya jauh di bawahku  tapi jabatannya melebihiku. Karena mereka berdua seorang manager, maka mereka mendapat fasilitas mobil dari kantor. Belum mobil pribadi mereka sendiri. Aah rasanya ingin kumiliki semua itu. Selain gaji besar, tunjangan dan fasilitas yang diberikan perusahaan pun cukup besar. Ingin kurebut jabatannya kelak suatu hari nanti. Entah bagaimanapun caranya. Entah dengan cara halus atau kasar. Aku harus bisa merebut kedudukannya di kantor ini. Harus dan harus.
Tidak hanya iri pada Bu Mirna dan Bu Ratih, aku juga sangat iri dengan Bu Hanifah, yang suaminya kerja di Dirjen Pajak. Sehingga jatah bulannya pun sangat besar. Dia bisa membeli apapun yang diinginkannya kapan saja. Dia juga menjadi pelanggan tetap salon terkenal untuk perawatan wajah dan tubuhnya. Perhiasan, asesoris, tas, sepatu dan baju-bajunya semua mahal dan branded. HRV merah selalu menemaninya kemanapun perginya. Dia sangat lincah mengendarai si merah. Aku sering membayangkan jika aku berada di posisinya, tentu sangat membanggakan, akan aku pamerka n di status Wa dan akun facebookku.
          ***
Untuk meningkatkan mutu perusahaan, salah satunya dengan meningkatkan Sumber Daya Manusia, alias para pegawainya. Maka Pak Direktur mewajibkan semua karyawannya mengikuti semacam pelatihan kerja sesuai divisi masing-masing. Aku pun ikut pelatihan bersama para staf divisi administrasi lainnya. Pelatihan ini diikuti oleh karyawan dari beberapa perusahaan. Dari sinilah aku mulai mengenal dunia luar, kenalan dengan beberapa orang-orang baru. Semua itu membangkitkan khayalku. Setiap kenalan dengan orang baru aku selalu mengaku sebagai kepala bagian administrasi dan memiliki banyak staf bawahan. Tentu saja mengaku bahwa suamiku adalah seorang rektor universitas tenama dan punya beberapa cabang bisnis di mana-mana. Tentu saja hal itu hanya dalam hayalku saja. Seakan-akan menjadi nyata dan tentu saja kuceritakan kepada siapa saja untuk menutupi keadaanku yang sebenarnya. Tapi anehnya mereka percaya saja atas bualanku dan belum ada yang klarifikasi ke teman satu perusahaanku, ya akhirnya kulanjutkkan saja.
Dengan mengikuti pelatihan itu, kenalanku dari beberapa perusahaan lain menjadi bertambah banyak. Maka kami berinisiatif membentuk grup whatsapp agar kami semakin akrab. Setiap hari aku selalu posting entah itu, mengajak sholat malam, puasa Senin Kamis. Biar terkesan agamislah, padahal kenyataannya sebalikny. Aku juga sering selfi dengan tas-tas bermerek, atau asesoris pinjaman, milih Rani teman akrabku. Demi kegemaranku foto sering sekali aku kerumahnya hanya sekedar numpang foto di mobil, rumah, bahkan di kamarnya. Rani hanya sebagai ibu rumah tangga, istri simpanan dari seorang pejabat. Foto-fotoku stiap hari selalu kuunggah di akun medsosku, tidak lupa ke beberapa whatsapp grup. Bila mereka memujiku, hatiku semakin bangga, dan kubalas dengan kebohongan berikutnya.
***
Namun, tidak selamanya kebohongan itu berjalan mulus. Ada seorang teman kerjaku yang tiba-tiba dimasukkan ke grup whatsapp itu, Milah namanya, dia juga seorang staf administrasi  . Aku cuek saja dia juga menjadi silent rider saja. Jadi aku semakin asyik dengan kebohongan demi kebohongan berikutnya. Hari itu aku unggah dua buah foto di ruang kerja Bu Ratih. Aku sengaja datang  pagi-pagi biar bisa leluasa berselfie ria. Kemarin aku juga berhasil berfoto di depan mobilnya, dengan menyuruh seorang office boy untuk memfotoku. Serta kuketik bahwa, aku sudah naik jabatan diangkat jadi manager marketing dan diberi fasilitas mobil. Semua orang memujiku dan mengucapkan selamat padaku, namun ada seorang yang meragukan, dengan menanyakan, Bagaimana seorang bagian administrasi bisa naik jabatan menjadi seorang manager marketing? Setelah itu muncullah kehebohan di grup. Semua orang jadi meragukanku, aku menjadi terpojok, tapi aku masih berusaha berkelit dengan mengatakan, bahwa karena aku berhasil memasarkan 20 set meja kursi kayu jati, nah karena prestasiku aku diangkat jadi manager marketing. Di grup whatsapp itu terpecah menjadi dua kubu, ada yang mendukungku dan ada yang tidak. Akhirya temanku angkat bicara, dia yang selama ini menjadi silent rider, akhirnya geram juga dan meluruskan keadaan. Dengan membeberkan fakta sebenarnya. Bahwa aku hanya seorang staf administrasi, suamiku tidak bekerja, beserta dia upload foto surat perjanjian kontrak kerjaku, ruangan kerja. Serta mengatakan bahwa manager marketingnya adalah Bu Ratih, ruang kerja dan mobil yang kuunggah  adalah   milik Bu Ratih. Grup menjadi heboh dan menyalahkan, menertawakan serta memojokkanku.
***
Akibat dari ulah isengku ini, perusahaanku jadi kena dampaknya, banyak yang membicarakanku dan perusahaanku. Bagaiamana PT Pramudya Jati Sejahtera, sebuah perusahaan kayu jati ternama bisa mempunyai karyawan  memalukan serta berhalusinasi tinggi, bahkan dicap setengah gila sepertiku. Masalah itu ternyata juga sampai ke Bu Ratih dan Pak Direktur. Pak Direktur memanggilku ke ruangannya. Panas dingin rasanya. Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju ruangannya. Di situ ada Bu Ratih, suami Bu Ratih, serta beberapa jajaran direksi lainnya. Aku diinterogasi, dimintai pertanggungjawaban dan disidang.
"Bu Dini, apa yang  anda lakukan? Kenapa membuat heboh di grup kolega administrasi?                                                                                                                                                                                                                                                                                       Memalukan perusahaan saja.Perusahaan kita jadi bahan gunjingan beberapa perusahaan lain” Gertak Pak Direktur.
Ma- ma- maaf, maafkan saya, Pak. Tak mampu menjelaskan, aku begitu ketakutan.
Akibat ulah Bu Dini, kredibilitas perusahaan kita jadi diragukan, banyak yang mau tandatangan kontrak kerja jadi  ditinjau ulang. Perbuatan ibu sangat merugikan perusahaan. Dan karena itu, anda saya pecat. Ini surat pemecatan dan pesangonnya. Terima kasih Pak Direktur dengan tegas memberikan surat pemecatan itu.
Apa dipecat? Janganlah Pak, tolong maafkan saya Pak, maafkan saya Pak Bu Dini memohon sambil memelas.
Maaf Bu tidak bisa, sudah keputusan para direksi
Makanya Bu Dini jangan suka menembus batas mimpi Bu Ratih ikut bicara.
Maafkan atas kelancangan saya Bu Ratih pinta Bu Dini sambil memelas.
Iya Bu sudah saya maafkan, tapi nasi sudah menjadi bubur, semoga Bu Dini bisa lebih baik lagi nantinya, jika mendapatkan pekerjaan baru, aamiin Bu Ratih nampah bijaksana
Rasanya aku tidak percaya, hanya karena ulah isengku, aku jadi dipecat. Bagaimana aku menghidupi anak-anakku? Bagaimana dengan sekolah dan kuliah anak-anakku?. Aku sadar akan kesalahanku, tidak akan kuulangi lagi, hidup dalam dunia mimpi. Aku akan mencari kerja di kota lain atau membuka usaha kecil-kecilan nantinya. Maafkan ibumu ini Nak..  
***                                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar